Hidup
merupakan sebuah tantangan bagi siapa yang menjalaninya. Tak kenal lelah, putus
asa, dan terus maju. Seperti bapak yang bernama lengkap Supardi. Seorang
petugas parkir di salah satu pasar
Bengkulu yaitu Pasar Panorama, berpenampilan wibawa dan pekerja keras.
Pekerjaan mulia inilah yang telah dilakoninya selama sembilan tahun dipasar
panorama itu. Asap, bau bahkan kebisingan dari banyak motor yang dia hadapi
bukanlah rintangan baginya untuk tetap bekerja. Dengan seragam hijau stabilo
nya setiap pagi mengatur parkiran satu per satu.
Yayat,
dialah yang menjadi seribu semangat bagi suaminya, istri yang selalu memberikan
semangat tanpa batas. Bekerja sebagai tukang cuci, Yayat kerjakan demi
meringankan beban suaminya. Melihat kondisi keluarga yang sederhana tak merubah
sifat Yayat, dia tetap merasa berkecukupan. Tukang cuci, sementara hasilnya tak
sebanding dengan harapannya, tak membuat wanita satu ini merasakan kebosanan, walaupun
tak selalu didampingi suaminya dalam bekerja. Bagaimana pun bekerja sebagai
Tukang cuci tak mudah dan melelahkan, entah mengapa bekerja sebagai tukang cuci
tak pernah menghambatnya dan tak membuat ia malu dengan tetangga-tetangganya,
karena selalu tersimpan dibenaknya, diusia sekarang mencari kerja layak dan
mapan tak semudah membalikkan telapak tangan. Hatinya terkadang merasa ciut
melihat kondisi untuk membahagiakan kedua anaknya kelak. Asep Sudarisman yang
sudah menginjak kelas 3 SMK dan adiknya Sukmira masih mengenyam di bangku SMP
kelas 3. Sering berfikir, Supardi dan Yayat ingin membiayai kedua anaknya
sampai ke perguruan tinggi. Walaupun hanya sebuah harapan bagi mereka, namun
keduanya tetap keras untuk menyekolahkan anak-anaknya. Karena pendidikan
merupakan prioritas utama baginya.
Langkah
niatnya selalu diiringi dengan doa dan harapan. Hidup selalu akan terus
berjalan, tanpa seseorang itu menuggu. Hasil yang diperoleh tergantung
bagaimana kita mendapatkannya. Tak hanya mereka berdua yang banting tulang,
anak pertama dari Supardi dan Yayat ini pun ikut membantu ekonomi keluarga
orang tua nya dengan bekerja menjual asoy di pasar. Asep tidak pernah malu
dengan teman-temannya “gak malu lah mbak untuk apa malu.ya, walaupun uang nya
gak seberapa tapi setidaknya saya bisa bantu Mamak sama Bapak”. Upah asep bisa
dihitung dari berapa banyak yang membeli asoy nya, satu lebar asoy berharga
Rp.500.
Bapak
yang berusia 39 mengaku selama bekerja mendapatkan gaji sekitar 1 juta. Dari
penghasilan itulah dia harus menghidupi keluarganya. “bekerja sebagai petugas
parkir adalah kewajiban saya mbak, untuk menyekolahkan anak-anak saya” ujar
bapak dari dua anak tersebut. Tidak ada
pekerjaan yang dilakoninya selain sebagai petugas parkir. Senyum ramah selalu
terpancar dari wajah bapak yang
bertempat tinggal tak jauh dari tempat dia bekerja. Kegigihan dan rasa semangat
untuk tetap menjadi kepala keluarga yang bisa menafkahi keluarganya patut
dijadikan cermin motivasi khususnya kita
sebagai pembaca.
Sosok
bapak yang bertempat tinggal di Jalan Muhajirin 8, ini mampu membuktikan bahwa
dari kerja kerasnya dia dapat mencukupi semua kebutuhan keluarganya. Suka duka selama menjalani profesinya begitu
banyak menghampirinya. “Orang-orang disini susah untuk prkir dengan tertib dan
teratur” jelas bapak ketika ditemui ditempat parkir. “Kadang-kadang masih ada
orang yang tidak membayar saya,mungkin dia lupa ya saya biarkan saja“. “Karna
saya yakin betul rejeki itu Allah yang atur jadi kalo ada yang gak bayar parkir
ya mungkin saja itu bukan rejeki saya”, tambahnya.