Wednesday, August 3, 2016

Pelestarian Kebudayaan Bengkulu




Provinsi Bengkulu merupakan salah satu Provinsi yang memiliki berbagai macam kebudayaan. Salah seorang budayawan provinsi bengkulu yaitu bapak M.Rusli amin mengatakan bahwa Bengkulu memiliki banyak sekali kebudayaan. Diantaranya Tari setangan, bedendang, dzikir,Tari Randai,Tari Sapu tangan,tari Gendang dan lain-lain. Menurut beliau semakin hari kebudayaan tersebut semakin langka untuk di temui. Hal ini di karenakan masih banyak anak muda yang tidak mengetahui dan bahkan tidak mempelajari akan banyaknya kebudayaan yang ada di Bengkulu.
Anak muda zaman sekarang cenderung lebih suka mengikuti bahkan mempelajarai kebudayaan barat dibandingkan dengan kebudayaan lokal, khususnya Provinsi Bengkulu. “inilah yang menyebabkan kebudayaan bengkulu akan mengalami kepunahan dimasa mendatang “ ujar M. Rusli Amin.
Khawatir akan hilangnya kebudayaan Bengkulu, maka M.Rusli Amin beserta teman-temannya membentuk sebuah forum kecil tempat berdiskusi serta mempelajari kebudayaan yang ada di Bengkulu. Tidak hanya itu, bahkan perkumpulan mereka sering di undang ke acara tertentu untuk mengisi pertunjukan disana. “perkumpulan ini tujuannya hanya untuk mempertahankan kebudayaan bengkulu, sehingga suatu saat nanti kebudayaan ini akan terus bsa dikenal oleh anak cucu kita dimasa mendatang “ kata pak M. Rusli Amin.

Monday, August 1, 2016

Ketika Letih Tak Kenal Waktu


Hidup merupakan sebuah tantangan bagi siapa yang menjalaninya. Tak kenal lelah, putus asa, dan terus maju. Seperti bapak yang bernama lengkap Supardi. Seorang petugas parkir  di salah satu pasar Bengkulu yaitu Pasar Panorama, berpenampilan wibawa dan pekerja keras. Pekerjaan mulia inilah yang telah dilakoninya selama sembilan tahun dipasar panorama itu. Asap, bau bahkan kebisingan dari banyak motor yang dia hadapi bukanlah rintangan baginya untuk tetap bekerja. Dengan seragam hijau stabilo nya setiap pagi mengatur parkiran satu per satu.
Yayat, dialah yang menjadi seribu semangat bagi suaminya, istri yang selalu memberikan semangat tanpa batas. Bekerja sebagai tukang cuci, Yayat kerjakan demi meringankan beban suaminya. Melihat kondisi keluarga yang sederhana tak merubah sifat Yayat, dia tetap merasa berkecukupan. Tukang cuci, sementara hasilnya tak sebanding dengan harapannya, tak membuat wanita satu ini merasakan kebosanan, walaupun tak selalu didampingi suaminya dalam bekerja. Bagaimana pun bekerja sebagai Tukang cuci tak mudah dan melelahkan, entah mengapa bekerja sebagai tukang cuci tak pernah menghambatnya dan tak membuat ia malu dengan tetangga-tetangganya, karena selalu tersimpan dibenaknya, diusia sekarang mencari kerja layak dan mapan tak semudah membalikkan telapak tangan. Hatinya terkadang merasa ciut melihat kondisi untuk membahagiakan kedua anaknya kelak. Asep Sudarisman yang sudah menginjak kelas 3 SMK dan adiknya Sukmira masih mengenyam di bangku SMP kelas 3. Sering berfikir, Supardi dan Yayat ingin membiayai kedua anaknya sampai ke perguruan tinggi. Walaupun hanya sebuah harapan bagi mereka, namun keduanya tetap keras untuk menyekolahkan anak-anaknya. Karena pendidikan merupakan prioritas utama baginya.
Langkah niatnya selalu diiringi dengan doa dan harapan. Hidup selalu akan terus berjalan, tanpa seseorang itu menuggu. Hasil yang diperoleh tergantung bagaimana kita mendapatkannya. Tak hanya mereka berdua yang banting tulang, anak pertama dari Supardi dan Yayat ini pun ikut membantu ekonomi keluarga orang tua nya dengan bekerja menjual asoy di pasar. Asep tidak pernah malu dengan teman-temannya “gak malu lah mbak untuk apa malu.ya, walaupun uang nya gak seberapa tapi setidaknya saya bisa bantu Mamak sama Bapak”. Upah asep bisa dihitung dari berapa banyak yang membeli asoy nya, satu lebar asoy berharga Rp.500.
Bapak yang berusia 39 mengaku selama bekerja mendapatkan gaji sekitar 1 juta. Dari penghasilan itulah dia harus menghidupi keluarganya. “bekerja sebagai petugas parkir adalah kewajiban saya mbak, untuk menyekolahkan anak-anak saya” ujar bapak dari dua anak tersebut.  Tidak ada pekerjaan yang dilakoninya selain sebagai petugas parkir. Senyum ramah selalu terpancar dari  wajah bapak yang bertempat tinggal tak jauh dari tempat dia bekerja. Kegigihan dan rasa semangat untuk tetap menjadi kepala keluarga yang bisa menafkahi keluarganya patut dijadikan  cermin motivasi khususnya kita sebagai pembaca.

Sosok bapak yang bertempat tinggal di Jalan Muhajirin 8, ini mampu membuktikan bahwa dari kerja kerasnya dia dapat mencukupi semua kebutuhan keluarganya.  Suka duka selama menjalani profesinya begitu banyak menghampirinya. “Orang-orang disini susah untuk prkir dengan tertib dan teratur” jelas bapak ketika ditemui ditempat parkir. “Kadang-kadang masih ada orang yang tidak membayar saya,mungkin dia lupa ya saya biarkan saja“. “Karna saya yakin betul rejeki itu Allah yang atur jadi kalo ada yang gak bayar parkir ya mungkin saja itu bukan rejeki saya”, tambahnya.